Traffic Light, lampu pengatur lalu lintas, semua pasti sedah pernah mendengar kata-kata itu. Lampu merah istilah lainnya walaupun warnanya ada yang hijau dan kuning selain warna merah. Fungsinye sebagai pengatur lalu lintas juga hampir semua orang sudah tahu. Anak saya yang TK saja sudah sangat paham bahwa setiap warna lampu yang menyala punya arti yang berbeda. Merah = berhenti, kuning = hati-hati, hijau = jalan.
Agar bisa diakses dengan mudah, lampu dibuat dalam beberapa ukuran, untuk jalan yang lebar dipasang lampu dengan ukuran yang besar, sedangkan untuk jalan yang lebih kecil dipasanglah lampu lalu lintas yang lebih kecil. Sekarang dalam perkembangannya ada petinjuk waktu digital yang dipasang di lampu lalu lintas. Fungsinya untuk memberitahukan kepada pemakai jalan, berapa lama dia harus berhenti, berapa lama lagi dia boleh melanjutkan perjalanan. Menurut saya efeknya bagus, kita jadi tahu, bahwa sebenarnya waktu kita yang ‘diambil’ untuk berhenti, tidak begitu lama. Paling lama hanya 60-an detik.
Rasanya aturan berhenti-jalan-hati-hati itu berlaku global di seluruh dunia, jadinya seharusnya kita juga melaksanakannya tanpa alasan.
Pernah tidak, kita merasa jadi orang aneh, ketika kita berhenti sendirian di lampu merah, pada saat lampu memang menyala merah, sedangkan ‘kawan-kawan’ kita yang seharusnya ikut berhenti juga malah meneruskan perjalanan karena mungkin masih merasa aman. Belum ada kemungkinan ‘tabrakan’ dengan kendaraan lain yang berlawanan arah. Saya sering mengalami hal itu, mungkin banyak warga
Anak saya pernah bertanya, ketika kami berdua terlibat percakapan di dalam mobil. Dia menanyakan kenapa ada pengemudi yang terus berjalan sewaktu lampu lalu lintas menyala merah, jawaban saya adalah, orang itu dulu tidak bersekolah, jadi tidak ada ibu guru yang memberitahukan kepadanya tentang aturan itu. Jawaban itu memuaskan anak saya. Jawaban itu terpaksa keluar dari mulut saya, karena saya belum bisa menjelaskan suatu ‘pelanggaran tanpa hukuman’ kepada anak saya yang masih berusia 5 tahun, karena yang dia ketahui pelanggaran terhadap aturan harus ada konsekuensinya, ada hukumannya. Sedangkan yang dia lihat saat itu, tidak ada hukuman apapun yang diterima oleh si pelanggar.
Lebih parah lagi, ketika lampu masih merah, kira-kira 5 detik lagi akan berubah menjadi hijau, banyak yang mencuri start jalan duluan. Seberapa pentingnya urusan orang itu sampai 5 detik saja tidak mau berkorban untuk kepentingan dan keselamatan bersama. Sebegitu kepepetnya kah sampai harus buru-buru. Berlebihan sepertinya.
Ketika kita memikirkan diri sendiri, mungkin kita bisa saja melakukan pelanggaran, pelanggaran terhadap berbagai aturan, termasuk peraturan lalu lintas. Tapi bayangkan saja akibat yang ditimbulkan oleh pelanggaran tersebut, misalnya yang paling sering terjadi, adalah tabrakan. Pikirkan saja, apabila saya seringkali membawa anak saya di kendaraan yang saya kemudikan, tentunya banyak ibu-ibu lain yang juga membawa anaknya di kendaraannya. Bisa jadi itu mobil, bisa juga motor. Kalau kita menabrak orang yang tidak punya sanak keluarga, yang hidup sebatang kara, mungkin efek yang ditimbulkan secara sosial akan sangat berbeda dengan apabila kita menabrak ibu-ibu yang sedang berkendara bersama anaknya.
Jadi apabila berkendara, jadilah pengendara yang peduli dengan kondisi sekitar, selain itu, apa sih yang anda kejar sehingga tidak ada waktu untuk berhenti selama 1 menit? Uang yang jumlahnya 2 Milyar, atau bisnis yang ratusan juta, yang tidak boleh terlambat biarpun hanya 1 menit?
Tolong biarkan negara ini, kota ini, menjadi kota yang normal, sehingga orang yang melanggarlah yang jadi makhluk aneh, bukan yang tertib yang jadi merasa aneh berhenti di perempatan sementara lampu memang menyala merah.














4 komentar:
Stuju mbaa...
Malah sering kali kl kita brenti pas lampu merah tp jalanan sepi..mobil2 dibelakang pd membunyikan klakson..supaya kita jalan.. Semakin kita keukeuh nuggu..smakin kenceng klaksonnya..sehingga kita kbingungan ndiri..kita salah apa yah..?
Judulnya spekta...
......coba klo dlu pas jaman sd-an, para anak2 diajarin bahwa waktu bukan untuk uang dan uang tidak bisa membeli waktu...so waktu jangan selalu diinsulasikan percuma tp insulasikan aj "percuma" dan put into your private pandora box and keep it untill the time is come!
emang aneh mbak... pas lampu merah saya sering sengaja berhenti di tengah jalan ngga ke tepi. arah seberang kiri kanan sepi. tat tit tut klakson truk mobil dibelakang entah nyuruh saya minggir apa nyuruh jalan. anehnya mereka malah bentakin saya. syukur saya nih orang malasan adu mulut, kl ngga... hihihi
Post a Comment